Minggu, 11 April 2021

Kultur Sekolah

 

    Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam blog saya kali ini, saya ingin mengajak temen-teman untuk lebih memahami dan mendalami materi dari "KULTUR SEKOLAH"

    Sekolah merupakan sebuah lembaga pendidikan yang menjadi wadah atau tempat berlangsungnya proses pendidikan. Sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan maka di sekolah memiliki kebiasaan-kebiasaan yang telah diterapkan sejak dahulu untuk mendidik siswa dan kemudian akan menjadi sebuah budaya sekolah (school culture). Untuk memperdalam pengetahuan kita tentang school culture atau budaya sekolah, maka kita terlebih dahulu mengetahui pengertian kultur atau budaya sekolah, Karakteristik kultur sekolah, Identifikasi kultur sekolah, implikasi kultur sekolah dalam perbaikan sekolah, dan aneka praktik pengembangan kultur sekolah.

·         Pengertian Kultur Sekolah

            Ada beberapa pengertian tentang kultur sekolah, diantaranya yaitu :

1)      Deal & Peterson (2011), menyatakan bahwa :

          “School culture is the set of norms, values and beliefs, rituals and ceremonies, symbols and stories that make up the persona of the school. These unwritten expectation build up over time as teachers, administratirs, parents, and students work together, solve problems, deal with challenges and, at times, cope with failurues, For examples, every school has a set of expectations about wjat can be discussed at staff meetings, what constitutes good teaching techniques, how willing the staff is to change, and the importance of staff development. School culture is also the way they think their schools and deal with the culture in which they work” (Deal & Peterson, 2011).

          “Budaya sekolah adalah seperangkat norma, nilai dan kepercayaan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Harapan tak tertulis ini menumpuk seiring waktu karena guru, administrasi, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan, kadang-kadang, mengatasi kegagalan, Sebagai contoh, setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang wjat dapat didiskusikan di rapat staf, apa yang merupakan teknik pengajaran yang baik, seberapa ingin staf berubah, dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara mereka berpikir tentang sekolah mereka dan menghadapi budaya tempat mereka bekerja" (Deal & Peterson, 2011).

2)      Schein (Peterson, 2002), budaya sekolah dimaknai sebagai :

          “School cultures are complex webs of traditions and rituals that have been built up over time as teachers, students, parents, and administrators work together and deal with crises and accomplishments. Cultural patterns are highly enduring, have a powerful impact on performance, and shape the essays people think, act, and feel” (Schein, Deal & Peterson, 2002).

“Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa” (Schein, Deal & Peterson, 2002).

3)      Stolp dan Smith (Moerdiyanto, 1995: 78-86) menyatakan bahwa :

          Kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang berhasil baik serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang dianggap benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut. Jadi, kultur sekolah merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan teruji dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, terampil, mandiri dan bernurani.

            Jadi kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah.

            Budaya sekolah dipandang sebagai eksistensi suatu sekolah yang terbentuk dari hasil mempengaruhi antara tiga faktor, yaitu sikap dan kepercayaan, norma-norma, dan hubungan antara individu sekolah (Aan Komariah, 2006 : 121).

            Kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, yaitu:

1. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.

2. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi.

3. Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.

4. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan perlengkapan lainnya.

 

·         Karakteristik Kultur Sekolah

            Kultur sekolah diharapkan dapat memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang. Sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya diakibatkan oleh dampak keterkaitan kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara proses mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif. (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).

            Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :

1)      Kultur yang terkait prestasi/kualitas :

(a) semangat membaca dan mencari referensi;

(b) keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup;

(c) kecerdasan emosional siswa;

(d) keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis;

(e) kemampuan siswa untuk berpikir obyektif

dan sistematis.

2)      Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial :

(a) nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan;

(b) nilai-nilai keterbukaan;

(c) nilainilaikejujuran;

(d) nilai-nilai semangat hidup;

(e) nilai-nilai semangat belajar;

(f) nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain;

(g) nilai-nilai untuk menghargai orang lain;

(h) nilai-nilai persatuan dan kesatuan;

(i) nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif;

(j) nilai-nilai disiplin diri;

(k) nilai-nilai tanggung jawab;

(l) nilai-nilai kebersamaan;

(m) nilai-nilai saling percaya;

(n) dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah. ( Depdiknas Direktorat PendidikanMenengah Umum, 2003: 25-26).

·         Identifikasi Kultur Sekolah

1)      Kultur Positif, Negatif, dan Netral

          Di kaitkan dengan usaha meningkatkan kualitas pendidikan, menurut Jumadi (2006: 4-5) Kultur sekolah ada yang bersifat postitif, negatif, dan netral. Kultur yang bersifat positif adalah kultur yang pro (mendukung) peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh kerjasama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap yang berprestasi, komitmen terhadap belajar, saling percaya antar warga sekolah, menjaga sportivitas dan sebagainya. Kultur yang bersifat negatif adalah kultur yang kontra (menghambat) peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh banyak jam pelajaran yang kosong, siswa takut berbuat salah, siswa takut bertanya atau mengemukakan pendapat, warga sekolah saling menjatuhkan, persaingan yang tidak sehat di antara para siswa, perkelahian antar siswa atau antar sekolah, penggunaan minuman keras dan obat-obat terlarang, pornografi dan sebagainya. Sedangkan kultur yang bersifat netral adalah kultur yang tidak mendukung maupun menghambat peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh arisan keluarga sekolah, seragam guru, dan sebagainya.

 

2)      Artifak, Nilai, Keyakinan, dan Asumsi

          Kultur sekolah merupakan aset yang bersifat abstrak, bersifat unik, dan senantiasa berproses dengan dinamika yang tidak sama antara satu sekolah dengan sekolah yang lain. Menurut Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum (2003: 12) dalam kaitannya dengan kebutuhan pengembangan kultur sekolah, yang perlu dipahami bahwa kultur hanya dapat dikenali melalui pencerminannya pada berbagai hal yang dapat diamati disebut dengan artifak. Artifak ini dapat berupa:

1) Perilaku verbal: ungkapan lisan atau tulis dalam bentuk kalimat dan kata-kata.

2) Perilaku non verbal: ungkapan dalam tindakan.

3) Benda hasil budaya: arsitektur, eksterior dan interior, lambang, tata ruang, dan sebagainya.

          Dibalik artifak itulah tersembunyi kultur yang dapat berupa:

1) Nilai-nilai: mutu, disiplin, toleransi, dan sebagainya.

2) Keyakinan: tidak kalah dengan sekolah lain bila mau bekerja keras.

3) Asumsi: semua anak dapat menguasai bahan pelajaran, hanya waktu yang diperlukan berbeda.

 

3)      Peran Kepala Sekolah

          Para pemimpin di dunia pendidikan harus lebih terlibat dalam upaya membentuk sekolah yang tanggap terhadap kebutuhan yang muncul dalam komunitas dan masyarakat, tidak hanya yang berkaitan dengan perubahan konteks dunia kerja maupun pekerjaan, tetapi juga memperhatikan masalah politis, kultural, dan perubahan sosial yang berlangsung. (Starratt, J Robbert, 2007: 13).

          Menurut Senge (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 14), peran kepala sekolah yang berhasil mengelola sekolah adalah yang memiliki karakteristik, sebagai berikut:

1) Mensosialisasikan visi dan misi sekolah dan rencana mencapai visi,

2) Menjelaskan harapan sekolah terhadap guru dan siswa,

3) Selalu tampak di sekolah,

4) Dipercaya oleh guru dan siswa,

5) Membantu pengembangan kemampuan guru,

6) Memberdayakan guru dan siswa,

7) Memberikan pujian dan peringatan terhadap warga sekolah,

8) Memiliki rasa humor,

9) Sebagai model bagi guru dan siswa.

 

·         Implikasi Kultur Sekolah dalam Perbaikan Sekolah

            Deal & Peterson (1999) memperluas kajian yang menunjukkan betapa kultur berpengaruh terhadap berjalannya fungsi sekolah. Berikut ini deskripsi mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:

1)      Visi dan Nilai (Vision and Values)

          Kouzes dan Posner (Locke, et.al. 1991) mendefinisikan visi sebagai berikut: “Vision as an ideal and unique image of the future”. Sedangkan Hickman & Silva mendeskripsikannya sebagai “A mental journey from the known to the unknown, creating the future from a montage of current facts, hopes, dreams, dangers, and opportunities”. Jadi, visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan. Nilai, secara sosiologis/antropologis, dapat didefinisikan sebagai berikut: “A value is a conception, explicit or implicit, distinctive of an individual or characteristic of a group, of a desirable which influence the selection from available modes, means, and ends of action”(Kluckhohn dalam Enz, 1986). Nilai bukan sekedar sebuah preferensi, melainkan merupakan persenyawaan dari pemikiran, perasaan, dan preferensi.

          Menurut Parsons & Shils (Enz, 1986), komponen nilai meliputi: kognitif, emosional, dan evaluatif. Sedangkan menurut Harrison & Huntington (2000), terdapat dua kategori nilai, yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental. Nilai intrinsik merupakan nilai yang ditegakkan tanpa memperhatikan untung/rugi, misalnya: nilai patriotisme. Sedangkan nilai instrumental merupakan nilai yang didukung karena menguntungkan, misalnya produktivitas. Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam budaya merupakan unsur yang penting. Pentingnya tujuan bermakna norma-norma yang positif, dan nilai-nilai yang dipegang teguh untuk menambahkan semangat dan vitalitas untuk perbaikan sekolah.

2)      Upacara dan Perayaan (Ritual and Ceremony)

          Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah bermanfaat dalam membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya. Momentum-momentum penting di sekolah dapat dirayakan secara sederhana untuk me-recharge esprit de corps yang dimiliki sekolah untuk menggelorakan visi dan spirit sekolah.

3)      Sejarah dan Cerita (History and Stories)

          Sejarah dan cerita masa lalu penting dalam mengalirkan dan memancarkan energi budaya. Fokus pada setiap budaya sekolah adalah aliran sejarah dan peristiwa masa lalu yang turut membentuk budaya berkembang pada masa kini. Dengan kata lain, romantisme masa lalu dapat membangkitkan semangat untuk mewujudkan kejayaan masa depan.

4)      Arsitektur dan Artefak (Architecture and Artifacts)

          Sekolah biasanya memiliki simbol-simbol seperti: arsitektur, motto, kata-kata dan tindakan. Setiap sekolah memiliki lambang/logo sekolah, motto, lagu (mars/hymne), dan seragam sekolah yang mencerminkan visi dan misi sekolah. Pemanfaatan lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah, dan lorong sekolah untuk memampangkan artefak fisik, efektif dalam menumbuhkan nilai dan spirit utama sekolah, misalnya melalui poster, majalah dinding, spanduk, dan pesan inspiratif lainnya.

            Dari sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa kultur sekolah memiliki implikasi terhadap upaya perbaikan sekolah, seperti dikemukakan Deal & Peterson (2011). Namun demikian, dalam praktiknya kultur sekolah seringkali justru terlewatkan dalam upaya perbaikan sekolah antara lain:

1)      Culture fosters school effectiveness and productivity (Budaya mendorong terwujudnya efektivitas dan produktivitas sekolah).

          Guru dapat berhasil dalam memfokuskan budaya pada produktivitas, kinerja, dan upaya perbaikan. Budaya membantu para guru dalam mengatasi ketidakpastian pekerjaan mereka dengan memberikan fokus pada kolegialitas. Hal ini penting untuk memberikan motivasi sosial dalam suatu pekerjaan yang menuntut mereka siap mengajar tigapuluh anak di ruang kelas. Budaya mendorong, memberi sanksi, dan memberi penghargaan pada tugas profesional untuk meningkatkan ketrampilan mereka.

2)      Culture improves collegial and collaborative activities that fosters better communication and problem solving practices (Budaya meningkatkan kegiatan kolegial dan kolaboratif yang mendorong perbaikan komunikasi dan praktik pemecahan masalah).

          Di sekolah, budaya menghargai kolegialitas dan kolaborasi. Terdapat iklim yang lebih baik untuk mempertukarkan ide-ide sosial dan profesional, peningkatan dan penyebaran praktik-praktik yang efektif, dan meluas pada pemecahan masalah profesional.

3)      Culture fosters successful change and improvement efforts (Budaya mendorong upaya keberhasilan perubahan dan perbaikan).

Budaya beracun (toxic culture) mendukung mediokritas dan sikap apatis, yang tidak mungkin mendorong inovasi. Sebaliknya, di sekolah-sekolah yang menganut norma-norma kinerja perubahan, para staf dengan senang hati bereksperimen dengan menggunakan pendekatan baru, menemukan praktik-praktik inovatif untuk memecahkan masalah, dan memperkuat visi pembelajaran yang berfokus pada perbaikan sekolah. Budaya sekolah mendorong pembelajaran dan kemajuan dengan mengembangkan iklim yang kondusif untuk perubahan tujuan, dukungan untuk mengambil resiko dan eksperimentasi, serta semangat masyarakat menilai kemajuan tujuan.

4)      Culture builds commitment and identification of staffs, students, and administrators (Budaya membangun komitmen dan identifikasi dari para staf, siswa dan tenaga administrasi).

          Orang-orang termotivasi dan merasa berkomitmen pada suatu organisasi yang memiliki makna, nilai-nilai, sebuah tujuan yang memuliakan. Komitmen tumbuh dengan kuat dan memelihara kultur sosial. Identifikasi diperkuat dengan misi inspiratif yang jelas dan mengkristal yang dipegang teguh. Motivasi diperkuat melalui ritual yang memelihara identitas, tradisi yang mengintensifkan koneksi ke sekolah, dan upacara yang membangun komunitas.

5)      Culture amplifies the energy, motivation, and vitality of a school staff, students, and community (Budaya menguatkan energi, motivasi, dan vitalitas dari staf sekolah, siswa, dan komunitas/masyarakat).

          Iklim sosial budaya berpengaruh terhadap orientasi emosional dan psikologis para staf. Dalam sejumlah kasus, sekolah yang memiliki spirit optimis memiliki iklim yang positif, bersemangat, menghargai, dan mendorong. Sebaliknya, dalam sekolah yang pesimis, yang berkembang adalah kultur negatif dan lingkungan sosial yang negatif dan tidak produktif.

6)      Culture increases the focus of daily behavior and attention on what is important and valued (Budaya meningkatkan fokus pada perilaku keseharian dan perhatian pada apa yang penting dan bernilai/berharga).

          Meskipun aturan, job-description, dan kebijakan dapat membentuk dan mempengaruhi perilaku seseorang, namun dalam aturan yang tidak tertulis maupun kebiasaan dan tradisi dalam kehidupan sehari-hari, seringkali justru lebih bermakna dalam mendorong aktivitas dan kemajuan yang berkelanjutan di sekolah. Asumsi-asumsi tersembunyi yang melekat dalam pola budaya lebih intensif. Dengan nilai yang kuat dan bermakna, pekerjaan sehari- hari menjadi lebih berfokus pada isu-isu penting seperti: kualitas pembelajaran, pengajaran yang kontinyu, dan akselerasi belajar bagi seluruh siswa.

          Dengan demikian, budaya sekolah memiliki pengaruh terhadap prestasi sekolah, perubahan dan perbaikan sekolah, serta berpengaruh pada pembelajaran siswa. Suatu sekolah dapat bertransformasi dengan membangun kekuatan, tujuan, dan budaya belajar positif, dengan meninggalkan kebiasaan yang negatif dan kontra produktif. Pimpinan sekolah yang senantiasa mengkomunikasikan tujuan bersama dan membangun makna simbolis merupakan kunci untuk membentuk budaya sukses di sekolahnya.

 

·         Aneka Praktik Pengembangan Kultur Sekolah

            Adapun kultur sekolah yang dapat dikembangkan antara lain yang kondusif bagi pengembangan:

1)      Prestasi Akademik

    Di sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim akademik (academic athmosphere) yang bertujuan untuk mencapai prestasi akademik. Prestasi akademik ini biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua siswa cenderung menghargai prestasi akademik daripada prestasi lainnya.

2)      Non-Akademik

    Prestasi non-akademik juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi olahraga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space) yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku humanis. Selama ini kebanyakan sekolah menganggap penting prestasi akademik siswa. Profil kecerdasan majemuk siswa yang bervariasi seringkali terabaikan. Padahal dalam realitasnya, kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik yang telah dimiliki, melainkan juga disebabkan oleh prestasi non-akademiknya.

3)      Karakter

    Karakter berkaitan dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan yang baik. Karakter bersifat inside-out,maksudnya bahwa perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya dorongan dari dalam, bukan karena paksaan dari luar (HB X, 2012). Adapun variasi nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui kultur sekolah antara lain: yang kondusif bagi pengembangannilai-nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran, ramah anak, anti kekerasan, dan lain-lain.

4)      Kelestarian Lingkungan Hidup

    Sejumlah sekolah di berbagai level (SD, SMP, SMA) mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan. Namun demikian, predikat sekolah adiwiyata tidak muncul dengan sendirinya tanpa diupayakan melalui pengembangan kultur sekolah ramah lingkungan. Sejumlah sekolah yang fokus dalam pengembangan sekolah hijau (green school) memiliki visi-misi yang berorientasi pada kehidupan dan kondisi lingkungan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan (sustainability). Untuk mewujudkannya, memerlukan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam pengembangan kultur sekolah yang ramah lingkungan.


                Sumber :

 Ariefa Efianingrum. Kultur Sekolah.Pemikiran Sosiologi. Vol 2. No. 1. Mei 2013

https://www.google.com/search?client=opera&q=Jurnal+Kultur+sekolah&sourceid=opera&ie=UTF-8&oe=UTF-8#

http://mansekusd.blogspot.com/2017/09/kultur-atau-budaya-sekolah.html?m=1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

4 Kompetensi Guru Profesional

  4 Kompetensi Guru Profesional   Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh... Hai teman-teman! Kembali lagi di blog saya, kali i...