Minggu, 25 April 2021

Manajemen Kelas

Assalamu'alaikum 

Dalam blog kali ini saya membuat tulisan seputar manajemen kelas.


 Pengertian

Manajemen kelas berasal dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. Manajemen berasal dari kata bahasa Inggris yaitu management, yang diterjemahkan pula menjadi pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sementara yang dimaksud kelas secara umum diartikan sebagai sebagai sekelompok peserta didik yang ada pada waktu yang sama menerima pembelajaran yang sama dari pendidik yang sama. Sebagian pengamat yang lain mengartikan kelas menjadi dua pemaknaan, yaitu: Pertama, kelas dalam arti sempit, yaitu berupa ruangan khusus, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam hal ini mengandung sifat-sifat statis, karena sekedar menunjuk pada adanya pengelompokan siswa berdasarkan batas umur kronologis masing-masing. Kedua, kelas dalam arti luas, yaitu suatu masyarakat kecil yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara kreatif untuk mencapai tujuan.

Ordway Tead yang dikutip Sarwoto menyebutkan bahwa “management is the process and agency which direct and guides the operations of an organizatioin in the realizing of established aims” atau dalam bahasa indonesianya manajemen adalah proses dan perangkat yang mengarahkan serta membimbing kegiatan-kegiatan suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) yang dikutip Sudarwan Danim “kelas didefinisikan sebagai ruang tempat belajar di sekolah”. Hornby dalam Oxford Advanced Leaner’s Dictionary (1986) mendefinisikan kelas sebagai group of students taught together, atau location when this group meets tobe taught. Jadi dalam hal ini, kelas merupakan sekelompok siswa yang diajar bersama, atau suatu lokasi ketika sekelompok siswa sedang menjalani proses pembelajaran pada tempat, waktu yang sama.

Dengan demikian, manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan serta dapat memotivasi peserta didik dengan baik.



Menurut Sudarman Danim, manajemen kelas dapat didefinisikan sebagai berikut: 

Manajemen kelas adalah seni atau praktis (praktik dan strategi) kerja, yaitu pendidik bekerja secara individu, dengan atau melalui orang lain (semisal bekerja dengan sejawat atau peserta didik sendiri) untuk mengoptimalkan sumber daya kelas bagi penciptaan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Di sini sumber daya kelas merupakan instrument, proses pembelajaran sebagai inti, dan hasil belajar sebagaimana mestinya.

Manajemen kelas adalah proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukan oleh pendidik, baik individual maupun dengan atau melalui orang lain (semisal dengan sejawat atau peserta didik) untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. Kata perencanaan di sini merujuk pada perencanaan pembelajaran dan unsur-unsur penunjangnya. Pelaksanaan bermakna proses pembelajaran, sedangkan evaluasi bermakna evaluasi pembelajaran. Evaluasi di sini terdiri dua jenis. Evaluasi di sini terdiri dari dua jenis, yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil pembelajaran. 

Manajemen kelas adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan yang dilakukan oleh pendidik, baik individual maupun dengan atau melalui orang lain (semisal sejawat atau peserta didik) untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien, dengan cara memanfaatkan segala sumber daya yang ada.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut di atas, maka dapat dipahami bahwa dalam mewujudkan pengelolaan kelas yang efektif tidak terlepas dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, serta memanfaatkan sumber daya-sumber daya secara optimal. 

Definisi manajemen atau pengelolaan kelas telah mengalami pergeseran secara paradigmatik meskipun esensi dan tujuannya relatif sama, yaitu terselenggaranya proses pembelajaran secara efektif dan efisien. Efisien dan efektivitas pembelajaran diukur menurut nilai-nilai pendidikan yang dianut dewasa ini. Adapun nilai-nilai yang dimaksud bisa nilai-nilai perjuangan, kognitif, afeksi, solidaritas sosial, moralitas, keagamaan, dan sebagainya yang dikaitkan dengan sumber daya yang digunakan.


Fungsi Manajemen Kelas

Fungsi manajemen adalah sebagai wahana bagi perserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi potensi peserta didik yang lainnya. Agar fungsi manajemen peserta didik dapat tercapai, ada beberapa fungsi manajemen kelas tersebut sebagai berikut:

Memberi guru pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan pendidikan sekolah dan hubungannya dengan pengajaran yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan itu. 

Membantu guru memperjelas pemikiran tentang sumbangan pengajarannya terhadap pencapaian tujuan pendidikan. 

Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai pengajaran yang diberikan dan prosedur yang digunakan.

Membantu guru dalam rangka mengenal kebutuhan-kebutuhan murid, minat-minat murid, dan mendorong motivasi belajar. 

Mengurangi kegiatan yang bersifat trial dan error dalam mengajar dengan adanya organisasi kurikulum yang lebih baik, metode yang tepat dan menghemat waktu. 

Murid-murid akan menghormati guru yang dengan sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengajar sesuai dengan harapanharapan mereka. 

Memberikan kesempatan bagi guru-guru untuk memajukan pribadinya dan perkembangan profesionalnya. 

Membantu guru memiliki perasaan percaya pada diri sendiri dan menjamin atas diri sendiri.

Membantu guru memelihara kegairahan mengajar dan senantiasa memberikan bahan-bahan yang up to date kepada murid.


Tujuan Manajemen Kelas

Manajemen kelas pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Selain itu, manajemen kelas juga bertujuan untuk menciptakan suasana kelas yang nyaman untuk tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Dengan demikian, proses tersebut akan dapat berjalan dengan efektif dan terarah, sehingga cita-cita pendidikan dapat tercapai demi terbentuknya sumber daya manusia yang berkualitas.

Adapun tujuan dari manajemen kelas adalah sebagai berikut:

Agar pengajaran dapat dilakukan secara maksimal, sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. 

Untuk memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya. Dengan manajemen kelas, guru mudah untuk melihat dan mengamati setiap kemajuan atau perkembangan yang dicapai siswa, terutama siswa yang tergolong lamban. 

Untuk memberi kemudahan dalam mengangkat masalah-masalah penting untuk dibicarakan dikelas demi perbaikan pengajaran pada masa mendatang.

Jadi, Manajemen kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi di dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya. Kemudian, dengan manajemen kelas produknya harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Sedangkan tujuan manajemen kelas secara khusus dibagi menjadi dua yaitu tujuan untuk siswa dan guru.

Tujuan Untuk Siswa

Adapun tujuan manajemen kelas untuk siswa adalah sebagai berikut:

Mendorong siswa untuk mengembangkan tanggung-jawab individu terhadap tingkah lakunya dan kebutuhan untuk mengontrol diri sendiri.

Membantu siswa untuk mengetahui tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas dan memahami bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan dan bukan kemarahan. 

Membangkitkan rasa tanggung jawab untuk melibatkan diri dalam tugas maupun pada kegiatan yang diadakan.

Tujuan Untuk Guru

Adapun tujuan manajemen kelas untuk siswa adalah sebagai berikut:

Untuk mengembangkan pemahaman dalam penyajian pelajaran dengan pembukaan yang lancar dan kecepatan yang tepat. 

Untuk dapat menyadari akan kebutuhan siswa dan memiliki kemampuan dalam memberi petunjuk secara jelas kepada siswa. 

Untuk mempelajari bagaimana merespon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang mengganggu. 

Untuk memiliki strategi ramedial yang lebih komprehensif yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang muncul didalam kelas.

Langkah-langkah Kegiatan Manajemen Kelas

Langkah-langkah kegiatan manajemen kelas adalah penyusunan rangkaian kegiatan yang dilakukan guru sebagai manajer/pemimpin pembelajaran di kelas adalah:

Merencanakan Pembelajaran

Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Memilih Materi Pokok Pembelajaran

Menentukan Strategi Pembelajaran

Membuat Evaluasi/Penilaian

Melaksanakan Pembelajaran

Pendekatan Manajemen Kelas

Pendekatan dalam manajemen kelas meliputi:

Pendekatan Kekuasaan 

Pendekatan kekuasaan disini memiliki pengertian sebagai sikap konsistensi dari seorang guru untuk menjadikan norma atau aturan-aturan dalam kelas sebagai acuan untuk menegakkan kedisiplinan.

Pendekatan Ancaman 

Ancaman juga dapat dijadikan pendekatan yang perlu dilakukan guru untuk memanage kelas yang baik. Namun, ancaman disini sepatutnya tidak dilakukan sesering mungkin dan hanya diterapkan manakala kondisi sudah benar-benar tidak dapat dikendalikan. Selama guru masih mampu melakukan pendekatan lain di luar ancaman, maka akan lebih baik jika pendekatan dengan ancaman ini ditangguhkan.

Pendekatan Kebebasan

Pendekatan ini juga perlu dilakukan oleh guru untuk dapat memanajemen kelas dengan baik adalah dengan melakukan pendekatan kebebasan. Artinya, guru harus membantu para siswa agar mereka bebas mengerjakan sesuatu dalam kelas, selama hal itu tidak menyimpang dari peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama.


Pendekatan Resep 

Pendekatan resep sangat cocok dilakukan oleh guru sendiri. Dalam hal ini, kita perlu mencatat beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama mengajar di kelas. Ketentuan itu dibuat tidak semata-mata untuk kepentingan guru, melainkan juga untuk kepentingan pengaturan kelas.

Pendekatan Pengajaran 

Kemampuan guru dalam membuat perencanaan pengajaran sekaligus mengimplementasikannya dalam kelas, merupakan pendekatan yang sangat efektif untuk dapat mengelola kelas yang baik.

Pendekatan Perubahan Tingkah Laku

 Sebagaimana prinsipnya, pengelolaan kelas dilakukan sebagai upaya untuk mengubah tingkah laku siswa di dalam kelas dari kurang baik menjadi baik.

Pendekatan Sosio-Emosional

Sebuah kelas dapat dikelola secara efisien selama guru mampu membina hubungan yang baik dengan siswa-siswanya.

Pendekatan Kerja Kelompok 

Pendekatan kerja kelompok dengan model ini membutuhkan kemampuan guru dalam menciptakan momentum yang mendorong kelompok-kelompok di dalam kelas menjadi kelompok yang produktif.

Pendekatan Elektis atau Pluralistis 

Pendekatan elektis biasanya menekankan pada potensi, kreativitas, dan inisiatif wali atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan berdasarkan situasi yang dihadapinya.

Implementasi Manajemen Kelas

Kemampuan mengelola proses belajar mengajar yang baik akan menciptakan situasi yang memungkinkan anak untuk belajar, sehingga merupakan titik awal keberhasilan pengajaran. Siswa dapat belajar dalam suasana wajar, tanpa tekanan dan dalam yang merangsang untuk belajar. Dalam kegiatan belajar mengajar siswa memerlukan suatu yang memungkinkan dia berkomunikasi secara baik, meliputi komunikasi guru-murid, murid-murid, murid-lingkungan, murid-bahan ajar dan murid dengan dirinya sendiri.

Tugas dan peran guru dalam implementasi pengelolaan proses belajar mengajar menurut Syaiful Bahri Djamarah (2002), adalah sebagai berikut:

Perencanaan

Menetapkan apa yang akan, kapan dan bagaimana cara melakukannya.

Membatasi sasaran dan menetapkan pelaksanaan kerja untuk mencapai hasil yang maksimal melalui proses penentuan target

Mengembangkan alternatif-alternatif Tindakan

Mengumpulkan dan menganalisis informasi

Mempersiapkan dan mengkomunikasikan rencana-rencana dan keputusan-keputusan

Pengorganisasian 

Menyediakan fasilitas, perlengkapan dan tenaga kerja yang diperlukan untuk menyusun kerangka yang efisien dalam melaksanakan rencana-rencana melalui proses penetapan kerja yang diperlukan untuk menyelesaikannya.

Mengelompokkan kelompok kerja dalam struktur organisasi secara teratur. 

Membentuk struktur wewenang dan mekanisme koordinasi

Merumuskan, menetapkan latihan dan pendidikan tenaga serta mencari sumbersumber lain yang diperlukan

Pengarahan 

Menyusun kerangka waktu dan biaya secara terperinci

Memperkarsa dan menampilkan pelaksanaan rencana dan pengambilan keputusan

Mengeluarkan instruksi-instruksi yang spesifik

Membimbing, memotivasi dan melakukan supervise

Pengawasan

Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan

Melaporkan penyimpangan dan merumuskan serta menyusun standarstandar dan sasaran-sasaran tindakan koreksi

Menilai pekerjaan dan melakukan tindakan koreksi terhadap penyimpangan penyimpangan.

Konsep Modern Manajemen Kelas 

Manajemen kelas dalam konsep modern dipandang sebagai proses mengorganisasikan segala sumber daya kelas bagi terciptanya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Sumber daya itu diorganisasikan untuk memecahkan beragam masalah yang menjadi kendala dalam proses pembelajaran sekaligus membangun situasi kelas yang kondusif secara berkesinambungan. Pendidik bertugas untuk menciptakan, memperbaiki, dan memilhara situasi kelas yang cerdas. Situasi kelas yang cerdas itulah yang mendukung pendidik untuk mengukur, mengembangkan, dan memelihara stabilitas kemampuan, bakat, minat dan energi yang dimilikinya dalam rangka menjalankan tugas-tugas pendidikan dan pembelajaran.


Referensi

Mulyadi, Classroom Management (Malang: UIN-Malang Pres, 2009), h. 2.

Badruddin, Manajemen Peserta didik (Jakarta: Indeks, 2014), h. 14. 

Salman Rusydie, Prinsip-Prinsip Manajemen Kelas (Cet. I; Jogjakarta: Diva Press, 2011), h. 25

Sarwoto, Dasar-Dasar Organisasi dan Manajemen, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1991, hal. 45.

Sudarwan Danim, Inovasi Pendidikan, Pustaka Setia, Bandung, 2010, hal. 167.

Sudarwan Danim, Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2002), h. 167.

Sudarwan Danim, Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan, h. 168

Oemar Hamalik, proses belajar mengajar (Bumi aksara Bandung: 2001). Hal 135- 136

Salman Rusydie, Prinsip-Prinsip Manajemen Kelas h.29.

Administrasi pendidikan UPI,manajemen Pendidikan (Bandung; Alfabeta2008). Hal 206

Sanjaya Wina pembelajaran, jakarta: prenada mulia, 2008. Hal. 68,

Edeng Suryana dan Dosen STAI Miftaul Huda Subang, “Manajemen Kelas Berkarakteristik Siswa”, Jurnal stai alhidayah bogor,2016

Astuti. Manajemen kelas yang efektif. Jurnal manajemen Pendidikan Islam; 2019. 

Bahri syaiful Dzamarah implementasi manajemen kelas (Jakarta: prenada mulia, 2002). Hal. 24

Badruddin, Manajem en Peserta Didik, h. 106.


Minggu, 18 April 2021

Manajeman Sekolah

 

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh...

            Nama saya Livia, baik dalam isi blog saya kali ini kita akan membahas tentang manajemen sekolah. Mengapa saya membahas tentang manajemen sekolah ? karena tidak lah banyak orang yang mengetahui bahwa sekolah juga ada manajemen nya dan semoga setelah saya menulis blog ini teman-teman bisa lebih mengetahui dan memahami apa sih manajemen sekolah itu.

         Baiklah, dari beberapa sumber yang saya baca tentang manajemen sekolah, untuk bisa memahami apa itu manajemen sekolah kita harus mengetahui pengertian dari manajemen terlebih dahulu. Mungkin kata “manajemen” itu sangat sering kita dengar tanpa kita ketahui apa sih arti dari manajemen yang sebenarnya ?

*      Pengertian Manajemen Sekolah

            Nah, manajemen itu terdiri dari dua arti yaitu manajemen dalam arti luas dan manajemen dalam arti sempit. Manajemen dalam arti luas adalah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien. Jadi, manajemen yang sering kita dengar itu tidak hanya untuk lingkungan pemasaran atau keuangan tetapi untuk seluruh lingkungan organisasi apapun itu termasuk sekolah yang memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan dalam arti sempit, sebagai contohnya adalah manajemen sekolah / madrasah yang meliputi perencanaan program sekolah / madrasah, pelaksanaan program sekolah/ madrasah, kepemimpinan kepala sekolah/ madrasah, pengawas/ evaluasi, dan sistem informasi sekolah/ madrasah. 

            Setelah kita mengetahui pengertian dari manajemen itu sendiri, selanjutnya kita membahas sekolah. Sekolah merupakan sebagai lembaga pendidikan formal yang harus mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Potensi tersebut ialah aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

            Jadi, Manajemen sekolah adalah proses mengelola sekolah melalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan sekolah agar mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dan kepala sekolah sebagai manejer sekolah yang menempati posisi yang telah ditentukan didalam organisasi sekolah. Salah satu prioritas kepala sekolah dalam manajemen sekolah ialah manajemen pembelajaran.

 

*      Tujuan Manajemen Sekolah

            Lanjut ke tujuan dari manajemen sekolah, apa sih tujuan dari adanya manajemen sekolah itu ? Jadi, tujuan dari manajemen sekolah menurut Sagala (2007) adalah mewujudkan tata kerja yang lebih baik dalam empat hal, yaitu :

1. Meningkatnya efesiensi penggunaan sumber daya dan penugasan staf.

2. Meningkatkan profesionalisme guru dan tenaga pendidik di sekolah.

3. munculnya gagasan-gagasan baru dalam implementasi kurikulum, penggunaan teknologi pembelajaran, dan pemanfaatan sumber-sumber belajar.

4. Meningkatnya mutu partisipasi masyarakat dan stakeholder.

            Intinya, tujuan utama dari penerapan manajemen sekolah adalah untuk penyeimbangan struktur kewenangan antara sekolah, pemerintah daerah pelaksanaan proses dan pusat sehingga manajemen menjadi lebih efesien. kewenangan terhadap pembelajaran diserahkan kepada unit yang paling dekat dengan pelaksanaan proses pembelajaran itu sendiri yaitu sekolah.

            Terus, untuk memberdayakan sekolah agar dapat melayani masysrakat secara maksismal sesuai dengan keinginan masyarakat, tujuan penerapan manajemen sekolah adalah untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah malalui kewenangan kepala sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara pertisipatif. Dan lebih rincinya manajemen sekolah bertujuan untuk :

1.      Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.

2.      Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.

3.      Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua , masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya.

4.      Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.

 

*      Fungsi Manajemen Sekolah

            Selain memiliki tujuan, manajemen sekolah juga memiliki fungsi. Secara umum fungsi manajemen yang orang ketahui ada empat yaitu fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pengarahan (directing), dan fungsi pengendalian (controlling). Untuk fungsi pengorganisasian terdapat juga fungsi staffing (pembentukan staf). Dan dalam proses manajeman terlibat fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang pemimpin, menurut Yamin dan Maisah (2009 : 2), yaitu “ perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controling).

            Jadi, fungsi manajemen sekolah yaitu menurut Percy E. Burrup fungsi-fungsi manajemen pendidikan di sekolah adalah :

1.      Merencanakan cara dan langkah-langkah mewujudkan tujuan program sekolah.

2.      Mengalokasikan baik sumber daya maupun kegiatan mengajar sehingga masing-masing tahu tugas dan tanggung jawab.

3.      Memotivasi dan menstimulus kegiatan staf pengajar sehingga mereka dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

4.      Mengkoordinir kegiatan anggota staf pengajar dan setiap satuan tugas di sekolah sehingga tenaga dapat digunakan seefektif mungkin.

5.      Menilai efektivitas prgram dan pelaksanaan tugas pengajaran dan tujuan-tujuan sekolah yang ditentukan sudah tercapai apa belum. Dan menilai pertumbuhan kemampuan mengajarkan tiap guru.

*      Manajemen Sekolah

 

                Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah yang lahir dan berkembang secara efektif dan efisien dari dan oleh serta untuk masyarakat, merupakan perangkat yang berkewajiban memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam mendidik warga negara. Sekolah dikelola secara formal, hierarkis dan kronologis yang berhaluan pada falsafah dan tujuan pendidikan nasional. Sebagaimana disepakati oleh para praktisi pendidikan bahwa pendidikan bisa berjalan karena dibangun oleh beberapa komponen dasar seperti: guru, siswa, kurikulum, bangunan, fisik, media pembelajaran dan sebagainya. 

            Sebuah lembaga pendidikan yang dijalankan secara profesional tentunya memiliki sumber daya manusia yang memadai. Sumber daya tersebut berupa kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan. Dalam menentukan arah serta kebijakan sekolah tentunya fungsi kepala sekolah menjadi sangat urgen. Berhasil tidaknya sekolah dalam mencapai tujuannya tergantung visi kepala sekolah, karena kendali pengelolaan sekolah berada di tangannya. Kepala sekolah adalah the leader di sekolahnya. Memimpin terkait dengan menggerakkan dan mengarahkan kegiatan orang, sedangkan “memanage” terkait dengan kegiatan mengatur orang. Mengatur bisa dimaknai secara luas, misalnya menempatkan, memberi tugas, membagi-bagi, mencarikan jalan keluar, memperlancar dan mengubah-ubah tugas yang diberikan.

            Di sekolah, mengapa diperlukan adanya manajemen yang efektif ? Agar pekerjaan dapat berjalan lancar. Mengingat beratnya proses pengelolaan pendidikan di sekolah, maka kepala sekolah sebagai pemimpin harus memahami seni memimpin. kepemimpinan berhubungan dengan kemampuan menentukan arah dan memastikan bahwa kendaraan berada dalam jalan yang sesuai dengan peta yang ditetapkan. Manajer bekerja sesuai dengan sistem, sedangkan kepemimpinan memperbaiki sistem serta membuat arah, tujuan, dan segala hal yang berkaitan dengan esensi dan substansi. Manajer berbicara tentang apa yang harus dikerjakan, kepemimpinan berbicara tentang mengapa dan apa akibatnya bila hal tersebut harus dikerjakan.”

            Kepemimpinan pendidikan adalah suatu kemampuan dan proses mempengaruhi, membimbing, mengkoordinir, dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannya dengan pengembangan ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, agar kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat lebih efisien dan efektif di dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan dan pengajaran.

            Dalam pelaksanaan manajemen diperlukan adanya teknik. Teknik-teknik manajemen kepemimpinan pendidikan di sekolah, yaitu:

1.      Teknik manajemen konvensional

Teknik manajemen konvensional banyak menekankan pada aspek mekanisasi dan dekat dengan hubungan kemanusiaan.

2.      Management by personality

Teknik ini dilaksanakan dengan diwarnai oleh pengakuan akan kewibawaan seseorang mengelola organisasi.

3.      Management by reward

Teknik ini memunculkan dorongan kerja dengan motivasi ekstrinsik. Orang dianggap mau bekerja apabila diberi hadiah-hadiah atau pujian.

4.      Teknik manajemen modern

Pada zaman sekarang, falsafah dasar demokrasi sudah berkembang dan kemudian muncul upaya baru dalam memanajemen proses pendidikan.

5.      Management by delegation

Teknik ini dilaksanakan dengan memberikan kepercayaan dan pengakuan atas prestasi dan kemampuan anggota.

6.      Management by system

Teknik ini dilaksanakan dengan melihat komponen-komponen yang ada dalam organisasi pendidikan sebagai kesatuan yang utuh. Misalnya, sekolah.

 

*      Kepemimpinan Sekolah

            Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu secara efektif dan efisien. Sekilas antara pemimpin dan kepemimpinan mengandung pengertian yang sama, padahal berbeda. Pemimpin adalah orang yang tugasnya memimpin, sedang kepemimpinan adalah bakat atau sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin. Sedangkan kepemimpinan adalah kekuasaan untuk mempengaruhi seseorang, baik dalam mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan sesuatu, bawahan dipimpin dari bukan dengan jalan menyuruh atau mendorong dari belakang. Kepemimpinan membutuhkan penggunaan kemampuan secara aktif untuk mempengaruhi pihak lain dan dalam wujudkan tujuan organisasi yang telah ditetapkan lebih dahulu. Seseorang pemimpin selalu melayani bawahannya lebih baik dari bawahannya tersebut melayani dia. Pemimpin memadukan kebutuhan dari bawahannya dengan kebutuhan organisasi dan kebutuhan masyarakat secara keseluruhannya.

            Pemimpin pendidikan ada bermacam-macam jenis dan tingkatannya, kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang sangat penting karena kepala sekolah berhubungan langsung dengan pelaksanaan program pendidikan di sekolah. Ketercapaian tujuan pendidikan sangat bergantung pada kecakapan dan kebijaksanaan kepala sekolah sebagai salah satu pemimpin pendidikan. Hal ini karena kepala sekolah merupakan seorang pejabat yang profesional dalam organisasi sekolah yang bertugas mengatur semua sumber organisasi dan bekerja sama dengan guru-guru dalam mendidik siswa untuk mencapai tujuan pendidikan.

 

            Kegiatan lembaga pendidikan sekolah di samping diatur oleh pemerintah, sesungguhnya sebagian besar ditentukan oleh aktivitas kepala sekolahnya. Menurut Pidarta (1990), kepala sekolah merupakan kunci kesuksesan sekolah dalam mengadakan perubahan. Sehingga kegiatan meningkatkan dan memperbaiki program dan proses pembelajaran di sekolah sebagian besar terletak pada diri kepala sekolah itu sendiri. Pidarta (1997) menyatakan bahwa kepala sekolah memiliki peran dan tanggung jawab sebagai manajer pendidikan, pemimpin pendidikan, supervisor pendidikan dan administrator pendidikan.

 

*      Rencana Pengembangan Sekolah

            Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) merupakan salah satu wujud dari salah satu fungsi manajemen sekolah yang amat penting, yang harus dimiliki sekolah untuk dijadikan sebagai panduan dalam menyelenggarakan pendidikan di sekolah, baik untuk jangka panjang (20 tahun), menengah (5 tahun) maupun pendek (satu tahun). Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) memiliki fungsi amat penting yaitu memberi arah dan bimbingan bagi para pelaku sekolah dalam rangka pencapaian tujuan sekolah yang lebih baik (peningkatan, pengembangan) dengan resiko yang kecil dan untuk mengurangi ketidakpastian masa depan.

            Standar Nasional Pendidikan (standar kelulusan, kurikulum, proses, pendidikan dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pembiayaan, pengelolaan, dan penilaian pendidikan) merupakan substansi penting dalam sistem pengelolaan sekolah yang harus direncanakan sebaik-baiknya dan diakomodir dalam penyusunan rencana pengembangan sekolah.

1.      Arti perencanaan pengembangan sekolah

            Perencanaan pengembangan sekolah adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan sekolah yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Perencanaan pengembangan sekolah adalah dokumen tentang gambaran kegiatan sekolah di masa depan dalam rangka untuk mencapai perubahan/tujuan sekolah yang telah ditetapkan.

2.      Pentingnya rencana pengembangan sekolah

            Rencana pengembangan sekolah penting dimiliki untuk memberi arah dan bimbingan para pelaku sekolah dalam rangka menuju perubahan atau tujuan sekolah yang lebih baik (peningkatan, pengembangan) dengan resiko yang kecil dan untuk mengurangi ketidakpastian masa depan.

3.      Tujuan rencana pengembangan sekolah

            Perencanaan pengembangan sekolah disusun dengan tujuan untuk: (1) menjamin agar perubahan/tujuan sekolah yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan tingkat kepastian yang tinggi dan resiko yang kecil; (2) mendukung koordinasi antar pelaku sekolah; (3) menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar pelaku sekolah, antar sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota, dan antar waktu.

4.      Sistem perencanaan sekolah

            Sistem perencanaan sekolah adalah satu kesatuan tata cara perencanaan sekolah untuk menghasilkan rencana-rencana pengembangan sekolah dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara sekolah dan masyarakat (diwakili oleh komite sekolah).

5.      Tahap-tahap penyusunan rencana pengembangan sekolah

 

a)      Melakukan analisis lingkungan strategis sekolah;

b)      Melakukan analisis situasi untuk mengetahui status situasi pendidikan sekolah saat ini (IPS);

c)      Memformulasikan pendidikan yang diharapkan di masa mendatang;

d)     Mencari kesenjangan antara butir 2 dan 3;

e)      Menyusun rencana strategis;

f)       Menyusun rencana tahunan;

g)      Melaksanakan rencana tahunan; dan

h)      Memonitor dan mengevaluasi.

            Jadi hanya ini lah sedikit pemahaman saya dari sumber yang saya baca dan saya bagikan kepada teman-teman semoga bisa dimengerti, dipahami dan bermanfaat untuk kalian. Terima kasih, Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh...

 

Sumber :

https://core.ac.uk/download/pdf/322573556.pdf

https://media.neliti.com/media/publications/93694-ID-manajemen-sekolah-dalam-meningkatkan-mut.pdf

https://doc.lalacomputer.com/makalah-manajemen-sekolah/


Minggu, 11 April 2021

Kultur Sekolah

 

    Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam blog saya kali ini, saya ingin mengajak temen-teman untuk lebih memahami dan mendalami materi dari "KULTUR SEKOLAH"

    Sekolah merupakan sebuah lembaga pendidikan yang menjadi wadah atau tempat berlangsungnya proses pendidikan. Sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan maka di sekolah memiliki kebiasaan-kebiasaan yang telah diterapkan sejak dahulu untuk mendidik siswa dan kemudian akan menjadi sebuah budaya sekolah (school culture). Untuk memperdalam pengetahuan kita tentang school culture atau budaya sekolah, maka kita terlebih dahulu mengetahui pengertian kultur atau budaya sekolah, Karakteristik kultur sekolah, Identifikasi kultur sekolah, implikasi kultur sekolah dalam perbaikan sekolah, dan aneka praktik pengembangan kultur sekolah.

·         Pengertian Kultur Sekolah

            Ada beberapa pengertian tentang kultur sekolah, diantaranya yaitu :

1)      Deal & Peterson (2011), menyatakan bahwa :

          “School culture is the set of norms, values and beliefs, rituals and ceremonies, symbols and stories that make up the persona of the school. These unwritten expectation build up over time as teachers, administratirs, parents, and students work together, solve problems, deal with challenges and, at times, cope with failurues, For examples, every school has a set of expectations about wjat can be discussed at staff meetings, what constitutes good teaching techniques, how willing the staff is to change, and the importance of staff development. School culture is also the way they think their schools and deal with the culture in which they work” (Deal & Peterson, 2011).

          “Budaya sekolah adalah seperangkat norma, nilai dan kepercayaan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Harapan tak tertulis ini menumpuk seiring waktu karena guru, administrasi, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan, kadang-kadang, mengatasi kegagalan, Sebagai contoh, setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang wjat dapat didiskusikan di rapat staf, apa yang merupakan teknik pengajaran yang baik, seberapa ingin staf berubah, dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara mereka berpikir tentang sekolah mereka dan menghadapi budaya tempat mereka bekerja" (Deal & Peterson, 2011).

2)      Schein (Peterson, 2002), budaya sekolah dimaknai sebagai :

          “School cultures are complex webs of traditions and rituals that have been built up over time as teachers, students, parents, and administrators work together and deal with crises and accomplishments. Cultural patterns are highly enduring, have a powerful impact on performance, and shape the essays people think, act, and feel” (Schein, Deal & Peterson, 2002).

“Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa” (Schein, Deal & Peterson, 2002).

3)      Stolp dan Smith (Moerdiyanto, 1995: 78-86) menyatakan bahwa :

          Kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang berhasil baik serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang dianggap benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut. Jadi, kultur sekolah merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan teruji dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, terampil, mandiri dan bernurani.

            Jadi kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah.

            Budaya sekolah dipandang sebagai eksistensi suatu sekolah yang terbentuk dari hasil mempengaruhi antara tiga faktor, yaitu sikap dan kepercayaan, norma-norma, dan hubungan antara individu sekolah (Aan Komariah, 2006 : 121).

            Kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, yaitu:

1. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.

2. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi.

3. Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.

4. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan perlengkapan lainnya.

 

·         Karakteristik Kultur Sekolah

            Kultur sekolah diharapkan dapat memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang. Sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya diakibatkan oleh dampak keterkaitan kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara proses mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif. (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).

            Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :

1)      Kultur yang terkait prestasi/kualitas :

(a) semangat membaca dan mencari referensi;

(b) keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup;

(c) kecerdasan emosional siswa;

(d) keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis;

(e) kemampuan siswa untuk berpikir obyektif

dan sistematis.

2)      Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial :

(a) nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan;

(b) nilai-nilai keterbukaan;

(c) nilainilaikejujuran;

(d) nilai-nilai semangat hidup;

(e) nilai-nilai semangat belajar;

(f) nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain;

(g) nilai-nilai untuk menghargai orang lain;

(h) nilai-nilai persatuan dan kesatuan;

(i) nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif;

(j) nilai-nilai disiplin diri;

(k) nilai-nilai tanggung jawab;

(l) nilai-nilai kebersamaan;

(m) nilai-nilai saling percaya;

(n) dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah. ( Depdiknas Direktorat PendidikanMenengah Umum, 2003: 25-26).

·         Identifikasi Kultur Sekolah

1)      Kultur Positif, Negatif, dan Netral

          Di kaitkan dengan usaha meningkatkan kualitas pendidikan, menurut Jumadi (2006: 4-5) Kultur sekolah ada yang bersifat postitif, negatif, dan netral. Kultur yang bersifat positif adalah kultur yang pro (mendukung) peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh kerjasama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap yang berprestasi, komitmen terhadap belajar, saling percaya antar warga sekolah, menjaga sportivitas dan sebagainya. Kultur yang bersifat negatif adalah kultur yang kontra (menghambat) peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh banyak jam pelajaran yang kosong, siswa takut berbuat salah, siswa takut bertanya atau mengemukakan pendapat, warga sekolah saling menjatuhkan, persaingan yang tidak sehat di antara para siswa, perkelahian antar siswa atau antar sekolah, penggunaan minuman keras dan obat-obat terlarang, pornografi dan sebagainya. Sedangkan kultur yang bersifat netral adalah kultur yang tidak mendukung maupun menghambat peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh arisan keluarga sekolah, seragam guru, dan sebagainya.

 

2)      Artifak, Nilai, Keyakinan, dan Asumsi

          Kultur sekolah merupakan aset yang bersifat abstrak, bersifat unik, dan senantiasa berproses dengan dinamika yang tidak sama antara satu sekolah dengan sekolah yang lain. Menurut Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum (2003: 12) dalam kaitannya dengan kebutuhan pengembangan kultur sekolah, yang perlu dipahami bahwa kultur hanya dapat dikenali melalui pencerminannya pada berbagai hal yang dapat diamati disebut dengan artifak. Artifak ini dapat berupa:

1) Perilaku verbal: ungkapan lisan atau tulis dalam bentuk kalimat dan kata-kata.

2) Perilaku non verbal: ungkapan dalam tindakan.

3) Benda hasil budaya: arsitektur, eksterior dan interior, lambang, tata ruang, dan sebagainya.

          Dibalik artifak itulah tersembunyi kultur yang dapat berupa:

1) Nilai-nilai: mutu, disiplin, toleransi, dan sebagainya.

2) Keyakinan: tidak kalah dengan sekolah lain bila mau bekerja keras.

3) Asumsi: semua anak dapat menguasai bahan pelajaran, hanya waktu yang diperlukan berbeda.

 

3)      Peran Kepala Sekolah

          Para pemimpin di dunia pendidikan harus lebih terlibat dalam upaya membentuk sekolah yang tanggap terhadap kebutuhan yang muncul dalam komunitas dan masyarakat, tidak hanya yang berkaitan dengan perubahan konteks dunia kerja maupun pekerjaan, tetapi juga memperhatikan masalah politis, kultural, dan perubahan sosial yang berlangsung. (Starratt, J Robbert, 2007: 13).

          Menurut Senge (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 14), peran kepala sekolah yang berhasil mengelola sekolah adalah yang memiliki karakteristik, sebagai berikut:

1) Mensosialisasikan visi dan misi sekolah dan rencana mencapai visi,

2) Menjelaskan harapan sekolah terhadap guru dan siswa,

3) Selalu tampak di sekolah,

4) Dipercaya oleh guru dan siswa,

5) Membantu pengembangan kemampuan guru,

6) Memberdayakan guru dan siswa,

7) Memberikan pujian dan peringatan terhadap warga sekolah,

8) Memiliki rasa humor,

9) Sebagai model bagi guru dan siswa.

 

·         Implikasi Kultur Sekolah dalam Perbaikan Sekolah

            Deal & Peterson (1999) memperluas kajian yang menunjukkan betapa kultur berpengaruh terhadap berjalannya fungsi sekolah. Berikut ini deskripsi mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:

1)      Visi dan Nilai (Vision and Values)

          Kouzes dan Posner (Locke, et.al. 1991) mendefinisikan visi sebagai berikut: “Vision as an ideal and unique image of the future”. Sedangkan Hickman & Silva mendeskripsikannya sebagai “A mental journey from the known to the unknown, creating the future from a montage of current facts, hopes, dreams, dangers, and opportunities”. Jadi, visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan. Nilai, secara sosiologis/antropologis, dapat didefinisikan sebagai berikut: “A value is a conception, explicit or implicit, distinctive of an individual or characteristic of a group, of a desirable which influence the selection from available modes, means, and ends of action”(Kluckhohn dalam Enz, 1986). Nilai bukan sekedar sebuah preferensi, melainkan merupakan persenyawaan dari pemikiran, perasaan, dan preferensi.

          Menurut Parsons & Shils (Enz, 1986), komponen nilai meliputi: kognitif, emosional, dan evaluatif. Sedangkan menurut Harrison & Huntington (2000), terdapat dua kategori nilai, yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental. Nilai intrinsik merupakan nilai yang ditegakkan tanpa memperhatikan untung/rugi, misalnya: nilai patriotisme. Sedangkan nilai instrumental merupakan nilai yang didukung karena menguntungkan, misalnya produktivitas. Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam budaya merupakan unsur yang penting. Pentingnya tujuan bermakna norma-norma yang positif, dan nilai-nilai yang dipegang teguh untuk menambahkan semangat dan vitalitas untuk perbaikan sekolah.

2)      Upacara dan Perayaan (Ritual and Ceremony)

          Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah bermanfaat dalam membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya. Momentum-momentum penting di sekolah dapat dirayakan secara sederhana untuk me-recharge esprit de corps yang dimiliki sekolah untuk menggelorakan visi dan spirit sekolah.

3)      Sejarah dan Cerita (History and Stories)

          Sejarah dan cerita masa lalu penting dalam mengalirkan dan memancarkan energi budaya. Fokus pada setiap budaya sekolah adalah aliran sejarah dan peristiwa masa lalu yang turut membentuk budaya berkembang pada masa kini. Dengan kata lain, romantisme masa lalu dapat membangkitkan semangat untuk mewujudkan kejayaan masa depan.

4)      Arsitektur dan Artefak (Architecture and Artifacts)

          Sekolah biasanya memiliki simbol-simbol seperti: arsitektur, motto, kata-kata dan tindakan. Setiap sekolah memiliki lambang/logo sekolah, motto, lagu (mars/hymne), dan seragam sekolah yang mencerminkan visi dan misi sekolah. Pemanfaatan lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah, dan lorong sekolah untuk memampangkan artefak fisik, efektif dalam menumbuhkan nilai dan spirit utama sekolah, misalnya melalui poster, majalah dinding, spanduk, dan pesan inspiratif lainnya.

            Dari sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa kultur sekolah memiliki implikasi terhadap upaya perbaikan sekolah, seperti dikemukakan Deal & Peterson (2011). Namun demikian, dalam praktiknya kultur sekolah seringkali justru terlewatkan dalam upaya perbaikan sekolah antara lain:

1)      Culture fosters school effectiveness and productivity (Budaya mendorong terwujudnya efektivitas dan produktivitas sekolah).

          Guru dapat berhasil dalam memfokuskan budaya pada produktivitas, kinerja, dan upaya perbaikan. Budaya membantu para guru dalam mengatasi ketidakpastian pekerjaan mereka dengan memberikan fokus pada kolegialitas. Hal ini penting untuk memberikan motivasi sosial dalam suatu pekerjaan yang menuntut mereka siap mengajar tigapuluh anak di ruang kelas. Budaya mendorong, memberi sanksi, dan memberi penghargaan pada tugas profesional untuk meningkatkan ketrampilan mereka.

2)      Culture improves collegial and collaborative activities that fosters better communication and problem solving practices (Budaya meningkatkan kegiatan kolegial dan kolaboratif yang mendorong perbaikan komunikasi dan praktik pemecahan masalah).

          Di sekolah, budaya menghargai kolegialitas dan kolaborasi. Terdapat iklim yang lebih baik untuk mempertukarkan ide-ide sosial dan profesional, peningkatan dan penyebaran praktik-praktik yang efektif, dan meluas pada pemecahan masalah profesional.

3)      Culture fosters successful change and improvement efforts (Budaya mendorong upaya keberhasilan perubahan dan perbaikan).

Budaya beracun (toxic culture) mendukung mediokritas dan sikap apatis, yang tidak mungkin mendorong inovasi. Sebaliknya, di sekolah-sekolah yang menganut norma-norma kinerja perubahan, para staf dengan senang hati bereksperimen dengan menggunakan pendekatan baru, menemukan praktik-praktik inovatif untuk memecahkan masalah, dan memperkuat visi pembelajaran yang berfokus pada perbaikan sekolah. Budaya sekolah mendorong pembelajaran dan kemajuan dengan mengembangkan iklim yang kondusif untuk perubahan tujuan, dukungan untuk mengambil resiko dan eksperimentasi, serta semangat masyarakat menilai kemajuan tujuan.

4)      Culture builds commitment and identification of staffs, students, and administrators (Budaya membangun komitmen dan identifikasi dari para staf, siswa dan tenaga administrasi).

          Orang-orang termotivasi dan merasa berkomitmen pada suatu organisasi yang memiliki makna, nilai-nilai, sebuah tujuan yang memuliakan. Komitmen tumbuh dengan kuat dan memelihara kultur sosial. Identifikasi diperkuat dengan misi inspiratif yang jelas dan mengkristal yang dipegang teguh. Motivasi diperkuat melalui ritual yang memelihara identitas, tradisi yang mengintensifkan koneksi ke sekolah, dan upacara yang membangun komunitas.

5)      Culture amplifies the energy, motivation, and vitality of a school staff, students, and community (Budaya menguatkan energi, motivasi, dan vitalitas dari staf sekolah, siswa, dan komunitas/masyarakat).

          Iklim sosial budaya berpengaruh terhadap orientasi emosional dan psikologis para staf. Dalam sejumlah kasus, sekolah yang memiliki spirit optimis memiliki iklim yang positif, bersemangat, menghargai, dan mendorong. Sebaliknya, dalam sekolah yang pesimis, yang berkembang adalah kultur negatif dan lingkungan sosial yang negatif dan tidak produktif.

6)      Culture increases the focus of daily behavior and attention on what is important and valued (Budaya meningkatkan fokus pada perilaku keseharian dan perhatian pada apa yang penting dan bernilai/berharga).

          Meskipun aturan, job-description, dan kebijakan dapat membentuk dan mempengaruhi perilaku seseorang, namun dalam aturan yang tidak tertulis maupun kebiasaan dan tradisi dalam kehidupan sehari-hari, seringkali justru lebih bermakna dalam mendorong aktivitas dan kemajuan yang berkelanjutan di sekolah. Asumsi-asumsi tersembunyi yang melekat dalam pola budaya lebih intensif. Dengan nilai yang kuat dan bermakna, pekerjaan sehari- hari menjadi lebih berfokus pada isu-isu penting seperti: kualitas pembelajaran, pengajaran yang kontinyu, dan akselerasi belajar bagi seluruh siswa.

          Dengan demikian, budaya sekolah memiliki pengaruh terhadap prestasi sekolah, perubahan dan perbaikan sekolah, serta berpengaruh pada pembelajaran siswa. Suatu sekolah dapat bertransformasi dengan membangun kekuatan, tujuan, dan budaya belajar positif, dengan meninggalkan kebiasaan yang negatif dan kontra produktif. Pimpinan sekolah yang senantiasa mengkomunikasikan tujuan bersama dan membangun makna simbolis merupakan kunci untuk membentuk budaya sukses di sekolahnya.

 

·         Aneka Praktik Pengembangan Kultur Sekolah

            Adapun kultur sekolah yang dapat dikembangkan antara lain yang kondusif bagi pengembangan:

1)      Prestasi Akademik

    Di sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim akademik (academic athmosphere) yang bertujuan untuk mencapai prestasi akademik. Prestasi akademik ini biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua siswa cenderung menghargai prestasi akademik daripada prestasi lainnya.

2)      Non-Akademik

    Prestasi non-akademik juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi olahraga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space) yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku humanis. Selama ini kebanyakan sekolah menganggap penting prestasi akademik siswa. Profil kecerdasan majemuk siswa yang bervariasi seringkali terabaikan. Padahal dalam realitasnya, kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik yang telah dimiliki, melainkan juga disebabkan oleh prestasi non-akademiknya.

3)      Karakter

    Karakter berkaitan dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan yang baik. Karakter bersifat inside-out,maksudnya bahwa perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya dorongan dari dalam, bukan karena paksaan dari luar (HB X, 2012). Adapun variasi nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui kultur sekolah antara lain: yang kondusif bagi pengembangannilai-nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran, ramah anak, anti kekerasan, dan lain-lain.

4)      Kelestarian Lingkungan Hidup

    Sejumlah sekolah di berbagai level (SD, SMP, SMA) mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan. Namun demikian, predikat sekolah adiwiyata tidak muncul dengan sendirinya tanpa diupayakan melalui pengembangan kultur sekolah ramah lingkungan. Sejumlah sekolah yang fokus dalam pengembangan sekolah hijau (green school) memiliki visi-misi yang berorientasi pada kehidupan dan kondisi lingkungan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan (sustainability). Untuk mewujudkannya, memerlukan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam pengembangan kultur sekolah yang ramah lingkungan.


                Sumber :

 Ariefa Efianingrum. Kultur Sekolah.Pemikiran Sosiologi. Vol 2. No. 1. Mei 2013

https://www.google.com/search?client=opera&q=Jurnal+Kultur+sekolah&sourceid=opera&ie=UTF-8&oe=UTF-8#

http://mansekusd.blogspot.com/2017/09/kultur-atau-budaya-sekolah.html?m=1

4 Kompetensi Guru Profesional

  4 Kompetensi Guru Profesional   Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh... Hai teman-teman! Kembali lagi di blog saya, kali i...