Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Dalam blog saya kali ini, saya ingin mengajak temen-teman untuk lebih memahami dan mendalami materi dari "KULTUR SEKOLAH"
Sekolah merupakan
sebuah lembaga pendidikan yang menjadi wadah atau tempat berlangsungnya
proses pendidikan. Sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan maka di
sekolah memiliki kebiasaan-kebiasaan yang telah diterapkan sejak dahulu untuk
mendidik siswa dan kemudian akan menjadi sebuah budaya sekolah (school culture).
Untuk memperdalam pengetahuan kita tentang school culture atau budaya sekolah,
maka kita terlebih dahulu mengetahui pengertian kultur atau budaya sekolah,
Karakteristik kultur sekolah, Identifikasi kultur sekolah, implikasi kultur
sekolah dalam perbaikan sekolah, dan aneka praktik pengembangan kultur sekolah.
·
Pengertian Kultur Sekolah
Ada beberapa pengertian tentang kultur sekolah,
diantaranya yaitu :
1) Deal
& Peterson (2011), menyatakan bahwa :
“School culture is the set of norms,
values and beliefs, rituals and ceremonies, symbols and stories that make up
the persona of the school. These unwritten expectation build up over time as
teachers, administratirs, parents, and students work together, solve problems,
deal with challenges and, at times, cope with failurues, For examples, every
school has a set of expectations about wjat can be discussed at staff meetings,
what constitutes good teaching techniques, how willing the staff is to change,
and the importance of staff development. School culture is also the way they
think their schools and deal with the culture in which they work” (Deal &
Peterson, 2011).
“Budaya sekolah adalah seperangkat
norma, nilai dan kepercayaan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang
membentuk persona sekolah. Harapan tak tertulis ini menumpuk seiring waktu
karena guru, administrasi, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan
masalah, menghadapi tantangan dan, kadang-kadang, mengatasi kegagalan, Sebagai
contoh, setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang wjat dapat
didiskusikan di rapat staf, apa yang merupakan teknik pengajaran yang baik,
seberapa ingin staf berubah, dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah
juga merupakan cara mereka berpikir tentang sekolah mereka dan menghadapi
budaya tempat mereka bekerja" (Deal & Peterson, 2011).
2) Schein
(Peterson, 2002), budaya sekolah dimaknai sebagai :
“School cultures are complex webs of
traditions and rituals that have been built up over time as teachers, students,
parents, and administrators work together and deal with crises and
accomplishments. Cultural patterns are highly enduring, have a powerful impact
on performance, and shape the essays people think, act, and feel” (Schein, Deal
& Peterson, 2002).
“Budaya
sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah
dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang
bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi,
memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir,
bertindak, dan merasa” (Schein, Deal & Peterson, 2002).
3) Stolp
dan Smith (Moerdiyanto, 1995: 78-86) menyatakan bahwa :
Kultur
sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan oleh suatu
kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang berhasil baik
serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara
yang dianggap benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah
tersebut. Jadi, kultur sekolah merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari
dan teruji dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam
mencetak lulusan yang cerdas, terampil, mandiri dan bernurani.
Jadi kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas
internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh
seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan,
sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan.
Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang
tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah.
Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru
dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama
lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah.
Budaya sekolah dipandang sebagai eksistensi suatu sekolah
yang terbentuk dari hasil mempengaruhi antara tiga faktor, yaitu sikap dan kepercayaan,
norma-norma, dan hubungan antara individu sekolah (Aan Komariah, 2006 : 121).
Kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai
dari yang abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, yaitu:
1. Nilai-nilai moral, sistem
peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.
2. Pribadi-pribadi yang merupakan
warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan
tenaga administrasi.
3. Kurikulum sekolah yang memuat
gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.
4.
Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan
perlengkapan lainnya.
·
Karakteristik Kultur Sekolah
Kultur sekolah diharapkan dapat memperbaiki mutu sekolah,
kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang memiliki ciri sehat, dinamis atau
aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur
anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan
peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara
efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu
terus berkembang. Sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya diakibatkan oleh dampak
keterkaitan kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar
lapisan-lapisan kultur tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara
proses mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem
asumsi yang ada. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan
jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif.
(Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).
Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan
antara lain :
1) Kultur
yang terkait prestasi/kualitas :
(a)
semangat membaca dan mencari referensi;
(b)
keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup;
(c)
kecerdasan emosional siswa;
(d)
keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis;
(e)
kemampuan siswa untuk berpikir obyektif
dan
sistematis.
2) Kultur
yang terkait dengan kehidupan sosial :
(a) nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan;
(b) nilai-nilai keterbukaan;
(c) nilainilaikejujuran;
(d) nilai-nilai semangat hidup;
(e) nilai-nilai semangat belajar;
(f) nilai-nilai menyadari diri sendiri
dan keberadaan orang lain;
(g) nilai-nilai untuk menghargai orang lain;
(h) nilai-nilai persatuan dan kesatuan;
(i) nilai-nilai untuk selalu bersikap
dan berprasangka positif;
(j) nilai-nilai disiplin diri;
(k) nilai-nilai tanggung jawab;
(l) nilai-nilai kebersamaan;
(m) nilai-nilai saling percaya;
(n) dan nilai-nilai yang lain sesuai
kondisi sekolah. ( Depdiknas Direktorat PendidikanMenengah Umum, 2003: 25-26).
·
Identifikasi Kultur Sekolah
1) Kultur
Positif, Negatif, dan Netral
Di
kaitkan dengan usaha meningkatkan kualitas pendidikan, menurut Jumadi (2006:
4-5) Kultur sekolah ada yang bersifat postitif, negatif, dan netral. Kultur
yang bersifat positif adalah kultur yang pro (mendukung) peningkatan kualitas pendidikan.
Sebagai contoh kerjasama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap yang
berprestasi, komitmen terhadap belajar, saling percaya antar warga sekolah,
menjaga sportivitas dan sebagainya. Kultur yang bersifat negatif adalah kultur
yang kontra (menghambat) peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh banyak
jam pelajaran yang kosong, siswa takut berbuat salah, siswa takut bertanya atau
mengemukakan pendapat, warga sekolah saling menjatuhkan, persaingan yang tidak
sehat di antara para siswa, perkelahian antar siswa atau antar sekolah,
penggunaan minuman keras dan obat-obat terlarang, pornografi dan sebagainya. Sedangkan
kultur yang bersifat netral adalah kultur yang tidak mendukung maupun
menghambat peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh arisan keluarga
sekolah, seragam guru, dan sebagainya.
2)
Artifak,
Nilai, Keyakinan, dan Asumsi
Kultur sekolah merupakan aset yang
bersifat abstrak, bersifat unik, dan senantiasa berproses dengan dinamika yang tidak
sama antara satu sekolah dengan sekolah yang lain. Menurut Depdiknas Direktorat
Pendidikan Menengah Umum (2003: 12) dalam kaitannya dengan kebutuhan
pengembangan kultur sekolah, yang perlu dipahami bahwa kultur hanya dapat dikenali
melalui pencerminannya pada berbagai hal yang dapat diamati disebut dengan
artifak. Artifak ini dapat berupa:
1) Perilaku verbal: ungkapan lisan atau
tulis dalam bentuk kalimat dan kata-kata.
2) Perilaku non verbal: ungkapan dalam
tindakan.
3) Benda hasil budaya: arsitektur,
eksterior dan interior, lambang, tata ruang, dan sebagainya.
Dibalik
artifak itulah tersembunyi kultur yang dapat berupa:
1) Nilai-nilai: mutu, disiplin,
toleransi, dan sebagainya.
2) Keyakinan: tidak kalah dengan sekolah
lain bila mau bekerja keras.
3) Asumsi: semua anak dapat menguasai
bahan pelajaran, hanya waktu yang diperlukan berbeda.
3)
Peran
Kepala Sekolah
Para
pemimpin di dunia pendidikan harus lebih terlibat dalam upaya membentuk sekolah
yang tanggap terhadap kebutuhan yang muncul dalam komunitas dan masyarakat, tidak
hanya yang berkaitan dengan perubahan konteks dunia kerja maupun pekerjaan,
tetapi juga memperhatikan masalah politis, kultural, dan perubahan sosial yang
berlangsung. (Starratt, J Robbert, 2007: 13).
Menurut
Senge (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 14), peran kepala
sekolah yang berhasil mengelola sekolah adalah yang memiliki karakteristik, sebagai
berikut:
1) Mensosialisasikan visi dan misi
sekolah dan rencana mencapai visi,
2) Menjelaskan harapan sekolah terhadap
guru dan siswa,
3) Selalu tampak di sekolah,
4) Dipercaya oleh guru dan siswa,
5) Membantu pengembangan kemampuan guru,
6) Memberdayakan guru dan siswa,
7) Memberikan pujian dan peringatan
terhadap warga sekolah,
8) Memiliki rasa humor,
9) Sebagai model bagi guru dan siswa.
·
Implikasi Kultur Sekolah dalam Perbaikan
Sekolah
Deal & Peterson (1999) memperluas kajian yang
menunjukkan betapa kultur berpengaruh terhadap berjalannya fungsi sekolah.
Berikut ini deskripsi mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh
terhadap fungsi sekolah:
1) Visi
dan Nilai (Vision and Values)
Kouzes dan Posner (Locke, et.al. 1991)
mendefinisikan visi sebagai berikut: “Vision as an ideal and unique image of
the future”. Sedangkan Hickman & Silva mendeskripsikannya sebagai “A mental
journey from the known to the unknown, creating the future from a montage of
current facts, hopes, dreams, dangers, and opportunities”. Jadi, visi merupakan
citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap
kondisi ideal yang dicita-citakan. Nilai, secara sosiologis/antropologis, dapat
didefinisikan sebagai berikut: “A value is a conception, explicit or implicit,
distinctive of an individual or characteristic of a group, of a desirable which
influence the selection from available modes, means, and ends of
action”(Kluckhohn dalam Enz, 1986). Nilai bukan sekedar sebuah preferensi,
melainkan merupakan persenyawaan dari pemikiran, perasaan, dan preferensi.
Menurut Parsons & Shils (Enz,
1986), komponen nilai meliputi: kognitif, emosional, dan evaluatif. Sedangkan
menurut Harrison & Huntington (2000), terdapat dua kategori nilai, yaitu
nilai intrinsik dan nilai instrumental. Nilai intrinsik merupakan nilai yang
ditegakkan tanpa memperhatikan untung/rugi, misalnya: nilai patriotisme.
Sedangkan nilai instrumental merupakan nilai yang didukung karena
menguntungkan, misalnya produktivitas. Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam
budaya merupakan unsur yang penting. Pentingnya tujuan bermakna norma-norma
yang positif, dan nilai-nilai yang dipegang teguh untuk menambahkan semangat
dan vitalitas untuk perbaikan sekolah.
2) Upacara
dan Perayaan (Ritual and Ceremony)
Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah
bermanfaat dalam membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya.
Momentum-momentum penting di sekolah dapat dirayakan secara sederhana untuk
me-recharge esprit de corps yang dimiliki sekolah untuk menggelorakan visi dan
spirit sekolah.
3) Sejarah
dan Cerita (History and Stories)
Sejarah dan cerita masa lalu penting
dalam mengalirkan dan memancarkan energi budaya. Fokus pada setiap budaya
sekolah adalah aliran sejarah dan peristiwa masa lalu yang turut membentuk
budaya berkembang pada masa kini. Dengan kata lain, romantisme masa lalu dapat
membangkitkan semangat untuk mewujudkan kejayaan masa depan.
4) Arsitektur
dan Artefak (Architecture and Artifacts)
Sekolah biasanya memiliki
simbol-simbol seperti: arsitektur, motto, kata-kata dan tindakan. Setiap
sekolah memiliki lambang/logo sekolah, motto, lagu (mars/hymne), dan seragam
sekolah yang mencerminkan visi dan misi sekolah. Pemanfaatan lahan pada area
sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah, dan lorong sekolah untuk
memampangkan artefak fisik, efektif dalam menumbuhkan nilai dan spirit utama
sekolah, misalnya melalui poster, majalah dinding, spanduk, dan pesan
inspiratif lainnya.
Dari sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa kultur sekolah
memiliki implikasi terhadap upaya perbaikan sekolah, seperti dikemukakan Deal
& Peterson (2011). Namun demikian, dalam praktiknya kultur sekolah
seringkali justru terlewatkan dalam upaya perbaikan sekolah antara lain:
1) Culture
fosters school effectiveness and productivity (Budaya mendorong terwujudnya
efektivitas dan produktivitas sekolah).
Guru dapat berhasil dalam memfokuskan
budaya pada produktivitas, kinerja, dan upaya perbaikan. Budaya membantu para
guru dalam mengatasi ketidakpastian pekerjaan mereka dengan memberikan fokus
pada kolegialitas. Hal ini penting untuk memberikan motivasi sosial dalam suatu
pekerjaan yang menuntut mereka siap mengajar tigapuluh anak di ruang kelas.
Budaya mendorong, memberi sanksi, dan memberi penghargaan pada tugas
profesional untuk meningkatkan ketrampilan mereka.
2) Culture
improves collegial and collaborative activities that fosters better
communication and problem solving practices (Budaya meningkatkan kegiatan
kolegial dan kolaboratif yang mendorong perbaikan komunikasi dan praktik
pemecahan masalah).
Di sekolah, budaya menghargai kolegialitas
dan kolaborasi. Terdapat iklim yang lebih baik untuk mempertukarkan ide-ide
sosial dan profesional, peningkatan dan penyebaran praktik-praktik yang
efektif, dan meluas pada pemecahan masalah profesional.
3) Culture
fosters successful change and improvement efforts (Budaya mendorong upaya
keberhasilan perubahan dan perbaikan).
Budaya
beracun (toxic culture) mendukung mediokritas dan sikap apatis, yang tidak
mungkin mendorong inovasi. Sebaliknya, di sekolah-sekolah yang menganut
norma-norma kinerja perubahan, para staf dengan senang hati bereksperimen
dengan menggunakan pendekatan baru, menemukan praktik-praktik inovatif untuk
memecahkan masalah, dan memperkuat visi pembelajaran yang berfokus pada
perbaikan sekolah. Budaya sekolah mendorong pembelajaran dan kemajuan dengan
mengembangkan iklim yang kondusif untuk perubahan tujuan, dukungan untuk
mengambil resiko dan eksperimentasi, serta semangat masyarakat menilai kemajuan
tujuan.
4) Culture
builds commitment and identification of staffs, students, and administrators
(Budaya membangun komitmen dan identifikasi dari para staf, siswa dan tenaga
administrasi).
Orang-orang termotivasi dan merasa
berkomitmen pada suatu organisasi yang memiliki makna, nilai-nilai, sebuah
tujuan yang memuliakan. Komitmen tumbuh dengan kuat dan memelihara kultur
sosial. Identifikasi diperkuat dengan misi inspiratif yang jelas dan
mengkristal yang dipegang teguh. Motivasi diperkuat melalui ritual yang
memelihara identitas, tradisi yang mengintensifkan koneksi ke sekolah, dan
upacara yang membangun komunitas.
5) Culture
amplifies the energy, motivation, and vitality of a school staff, students, and
community (Budaya menguatkan energi, motivasi, dan vitalitas dari staf sekolah,
siswa, dan komunitas/masyarakat).
Iklim sosial budaya berpengaruh
terhadap orientasi emosional dan psikologis para staf. Dalam sejumlah kasus,
sekolah yang memiliki spirit optimis memiliki iklim yang positif, bersemangat,
menghargai, dan mendorong. Sebaliknya, dalam sekolah yang pesimis, yang berkembang
adalah kultur negatif dan lingkungan sosial yang negatif dan tidak produktif.
6) Culture
increases the focus of daily behavior and attention on what is important and
valued (Budaya meningkatkan fokus pada perilaku keseharian dan perhatian pada
apa yang penting dan bernilai/berharga).
Meskipun aturan, job-description, dan
kebijakan dapat membentuk dan mempengaruhi perilaku seseorang, namun dalam
aturan yang tidak tertulis maupun kebiasaan dan tradisi dalam kehidupan
sehari-hari, seringkali justru lebih bermakna dalam mendorong aktivitas dan
kemajuan yang berkelanjutan di sekolah. Asumsi-asumsi tersembunyi yang melekat
dalam pola budaya lebih intensif. Dengan nilai yang kuat dan bermakna,
pekerjaan sehari- hari menjadi lebih berfokus pada isu-isu penting seperti:
kualitas pembelajaran, pengajaran yang kontinyu, dan akselerasi belajar bagi
seluruh siswa.
Dengan demikian, budaya sekolah
memiliki pengaruh terhadap prestasi sekolah, perubahan dan perbaikan sekolah,
serta berpengaruh pada pembelajaran siswa. Suatu sekolah dapat bertransformasi
dengan membangun kekuatan, tujuan, dan budaya belajar positif, dengan
meninggalkan kebiasaan yang negatif dan kontra produktif. Pimpinan sekolah yang
senantiasa mengkomunikasikan tujuan bersama dan membangun makna simbolis merupakan
kunci untuk membentuk budaya sukses di sekolahnya.
·
Aneka Praktik Pengembangan Kultur
Sekolah
Adapun kultur sekolah yang dapat dikembangkan antara lain
yang kondusif bagi pengembangan:
1) Prestasi
Akademik
Di
sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim
akademik (academic athmosphere) yang bertujuan untuk mencapai prestasi akademik.
Prestasi akademik ini biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok
yang dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua siswa cenderung menghargai
prestasi akademik daripada prestasi lainnya.
2) Non-Akademik
Prestasi
non-akademik juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai
prestasi olahraga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan
demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang
(space) yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi,
berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku humanis. Selama ini kebanyakan
sekolah menganggap penting prestasi akademik siswa. Profil kecerdasan majemuk
siswa yang bervariasi seringkali terabaikan. Padahal dalam realitasnya,
kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik yang telah
dimiliki, melainkan juga disebabkan oleh prestasi non-akademiknya.
3) Karakter
Karakter
berkaitan dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk pembangunan
karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau
lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan
kebiasaan yang baik. Karakter bersifat inside-out,maksudnya bahwa perilaku yang
berkembang menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya dorongan dari
dalam, bukan karena paksaan dari luar (HB X, 2012). Adapun variasi nilai
karakter yang dapat dikembangkan melalui kultur sekolah antara lain: yang
kondusif bagi pengembangannilai-nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan,
kejujuran, ramah anak, anti kekerasan, dan lain-lain.
4) Kelestarian
Lingkungan Hidup
Sejumlah
sekolah di berbagai level (SD, SMP, SMA) mendapatkan penghargaan dan predikat
sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah
berwawasan lingkungan. Namun demikian, predikat sekolah adiwiyata tidak muncul
dengan sendirinya tanpa diupayakan melalui pengembangan kultur sekolah ramah
lingkungan. Sejumlah sekolah yang fokus dalam pengembangan sekolah hijau (green
school) memiliki visi-misi yang berorientasi pada kehidupan dan kondisi
lingkungan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan (sustainability). Untuk
mewujudkannya, memerlukan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam
pengembangan kultur sekolah yang ramah lingkungan.
Sumber : Ariefa
Efianingrum. Kultur Sekolah.Pemikiran Sosiologi. Vol 2. No. 1. Mei 2013
https://www.google.com/search?client=opera&q=Jurnal+Kultur+sekolah&sourceid=opera&ie=UTF-8&oe=UTF-8#
http://mansekusd.blogspot.com/2017/09/kultur-atau-budaya-sekolah.html?m=1